Perang Timbung, Bakal Masuk Kalender Event Budaya Loteng


Perayaan Perang Timbung, tradisi yang menjadi budaya setiap tahun masyarakat Desa Pejanggik, dinilai layak masuk dalam kalender tahunan Lombok Tengah.

Budaya Perang Timbung yang dilaksanakan setiap tahun di Makam Serewe, dipercaya masyarakat Desa Pejanggik sebagai ritual untuk tolak bala atau musibah sekaligus ritual budaya untuk menandakan musim hujan sudah dekat.

Teradisi Perang Timbung biasanya jatuh pada bulan keempat Kalender Sasak. Perayaan Perang Timbung dipercaya masyarakat setempat sebagai peringatan perang, dimana kala itu Anak Agung, dari sekilas sejarahnya, melakukan penyerangan balik ke Raja Pejanggik. Raja Pejanggik kala itu sempat meninggalkan istana dan dilihat oleh masyarakat duduk di Makam Serewe.

Kuatnya kepercayaan masyarakat setempat terhadap tradisi perayaan Perang Timbung yang bisa menghilangkan mara bahaya, sehingga Pemkab Lombok Tengah (Loteng) ingin memasukkan perayaan Perang Timbung dalam kalender tahunan Lombok Tengah.

"Untuk menjaga dan melestarikan budaya, saya akan mengajukan perayaan Perang Timbung masuk dalam kalender Lombok Tengah," kata Wakil Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, saat menghadiri perayaan Perang Timbung di Makam Serewe, Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Lombok Tengah, Jum'at (26/8) sore.

Budaya Perang Timbung, menurut Lalu Pathul, harus dilestarikan sebab selain bisa menambah daftar kekayaan budaya Lombok Tengah, perayaan Perang Timbung juga bisa menjadi salah satu icon budaya Lombok Tengah.

"Banyaknya budaya peninggalan nenek moyang, tentunya sangat tidak salah jika Lombok Tengah menjadi salah satu daerah pusat parawisata di NTB. Baik keindahan alam yang dimilikinya, juga kaya akan peninggalan budaya leluhur," ujar Wabup didampingi Kadis Budpar Loteng HL Muh Putrie.

Menurut Wabup Pathul, banyaknya budaya Lombok Tengah, lebih terasa semakin indah ketika Loteng memiliki 2700 Masjid. Dengan begitu banyaknya Masjid, sebagai icon parawisata halal sehingga pemerintah telah mencanangkan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika atau Mandalika Resort di Kuta Kecamatan Pujut Loteng, diawali dengan pembangunan Masjid.

"Parawisata Mandalika Resort itu didesain sebagai wisata halal, makanya tempat ibadah (Masjid) menjadi satu-satunya pembangunan yang harus diselesaikan," ungkap Wabup.

Wabup Lalu Pathul meyakini, kekayaan budaya Lombok Tengah belum sepenuhnya tergali, masih banyak yang belum terdata oleh pemerintah. Sehingga pihaknya mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus menggali budaya-budaya yang belum sampai diketahui masyarakat luas.

Sejarah Perang Timbung ini diakui Wabup, sebenarnya sudah didengarnya sejak kecil, bahkan semasa kecil orang nomor dua di kabupaten yang bermoto Tatas Tuhu Trasna ini, juga pernah ikut meramaikan kegiatan budaya tersebut. Untuk itu, pihakalnya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya dikalangan pemuda, untuk menjaga dan mempertahankan kebudayaan tersebut.

Senada ditegaskan Kadis Budpar Loteng HL Muh Putrie, bahwa kedepan sumbangsih terhadap kebudayaan Perang Timbung harus dilestarikan dan ditingkatkan, karena ini adalah budaya peninggalan leluhur.

"Insya Allah apa yang kita lakukan ini merupakan bentuk penghormatan bagi pendahulu kita, dan ini tentunya bisa mendatangkan pahala," ucap Putrie, dihadapan sejumlah pejabat yang turut hadir, seperti Camat, Kapolsek, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Sumber: mataramnews

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible