BTemplates.com

Budaya Sasak

  • Beranda
Home Archive for November 2016

Asal Usul
Suku bangsa Sasak yang berdiam di Pulau Lombok, Provinsi NusaTenggara Barat, memiliki banyak unsur-unsur kebudayaan yang hingga saat ini masih dipertahankan. Salah satu dari sekian banyak unsur kebudayaan yang ditumbuhkembangkan dan dipertahankan tersebut adalah kesenian berupa sebuah permainan yang disebut peresean atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai pelindung atau penangkis pukulan (Idealita, 2011). Jadi, dalam permainan ini para pemainnya akan melakukan suatu pertarungan (saling pukul) dengan menggunakan sebatang tongkat dari rotan sebagai alat pemukul dan sebuah perisai atau dalam bahasa setempat disebut ende untuk menangkis pukulan lawan.

Ada beberapa versi mengenasi asal usul permainan bela diri ini. Versi pertama, menyatakan bahwa konon peresean berasal dari legenda Ratu Mandalika yang bunuh diri karena melihat dua orang saling berkelahi hingga mati untuk memperebutkan cintanya. Sedangkan versi yang lainnya lagi menyatakan bahwa peresean timbul dari pelampiasan emosional para raja Sasak ketika akan dan atau telah selesai menghadapi peperangan melawan musuh-musuhnya. Oleh karena itu, peresean juga digunakan sebagai ajang untuk menunjukkan atau memupuk keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seseorang dalam sebuah pertempuran. Darah yang menetes ke bumi dalam pertarungan peresean akibat sabetan alat pemukul juga diyakini sebagai simbol turunya hujan, sehingga semakin banyak darah yang menetes, semakin lebat pula hujan yang akan turun.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, peresean tidak hanya bertujuan sebagai sarana melatih mental seseorang dan atau meminta hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Permainan ini telah berkembang menjadi suatu atraksi budaya sebagai ajang promosi untuk memikat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Selain itu, juga untuk memeriahkan hari-hari besar nasional atau daerah, seperti: peringatan hari kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus, hari Pahlawan 10 November, hari jadi Kota Mataram, dan lain sebagainya.

Pemain
Peresean dapat dikategorikan sebagai permainan remaja dan dewasa yang hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Jumlah pemainnya (disebut pepadu) tidak dibatasi, asalkan pertarungan dilakukan dengan cara satu lawan satu. Sedangkan, untuk memilih pepadunya sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) pepadu yang telah berada di dalam arena menantang salah satu penonton untuk melakukan pertarungan; dan atau (2) panitia pertandingan memilih langsung para calon pepadu dari para penonton yang hadir.

Panitia pengatur jalannya permainan peresean ini disebut Pekembar atau Pekembarakan yang terdiri dari Pekembar Tengaq (tengah) dan Pekembar Sedi (pinggir). Pekembar Tengaq adalah orang yang bertugas memimpin jalannya permainan atau dapat disamakan dengan wasit yang mengawasi jalannya permainan sesuai dengan awig-awig atau peraturan yang telah ditetapkan. Dalam menjalankan perannya, Pekembar Tengaq dibantu oleh Pekembar Sedi yang bertugas memilih calon pepadu yang seimbang, sebagai juri pemberi nilai pada setiap pukulan pepadu serta menetapkan pemenangnya. Selain itu ada juga yang bertugas sebagai “tukang adu” yang disebut Pengadok.

Tempat dan Peralatan Permainan
Arena bertarung para pepadu dalam peresean sebenarnya tidak membutuhkan tempat yang luas karena hanya dilakukan oleh dua orang pemain dalam satu pertandingannya. Namun karena disaksikan oleh banyak orang, maka lokasi peresean umumnya diadakan di tanah lapang atau lapangan.

Adapun peralatan yang digunakan oleh seorang pepadu hanya dua macam, yaitu: (1) sebuah alat pemukul semacam cemeti terbuat dari rontan atau penjalin sepanjang sekitar 50 centimeter berbalut kulit yang kadang ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan kaca yang ditumbuk sangat halus; serta (2) sebuah perisai atau ende terbuat dari kulit sapi atau kerbau sebagai pelindung dan penangkis serangan lawan.

Dan, untuk lebih memeriahkan suasana, Peresean juga dilengkapi musik pengiring yang disebut Gendang (Gending) Peresean, terdiri dari: satu buah gong, dua buah gendang, satu buah petuk, satu set rencek/rincik, dan satu buah suling bambu. Gending Peresean ini dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu: (1) Gending Rangsang atau Gending Ngadokang, dimainkan pada saat Pekembar dan Pengadok mencari pepadu yang akan ditandingkan; (2) Gending Mayuang, dimainkan sebagai tanda bahwa telah ada dua orang pepadu yang siap melakukan peresean; dan (3) Gending Beradu yang dimainkan selama pertandingan berlangsung dengan tujuan untuk membangkitkan semangat pepadu maupun para penonton yang menyaksikannya.

Aturan Permainan
Aturan dalam permainan peresean disebut awig-awig, diantaranya adalah: (1) menggunakan sistem ronde sebanyak tiga hingga lima ronde yang ditandai dengan peniupan peluit oleh Pekembar Tengaq; (2) seorang Pepadu hanya boleh memukul bagian atas tubuh (kepala, pundak, punggung) dan dilarang mengenai bagian bawah tubuh lawannya (dari pinggang hingga kaki); dan (3) menggunakan sistem nilai yang diberikan oleh Pekembar Sedi bila kedua Pepadu masih dapat bertahan dan tidak mengeluarkan darah hingga ronde terakhir. Namun, apabila seorang Pepadu telah mengeluarkan darah akibat sabetan rotan lawan mainnya, maka ia dinyatakan kalah dan pertarungan langsung dihentikan. Sedangkan lawannya dinyatakan menang.

Jalannya Permainan
Permainan peresean diawali dengan memilih para pepadu dari kalangan penonton. Mereka (calon pepadu) umumnya mengenakan sapuq (ikat kepala) dari kain, lereng leang (kain panjang) dan sabuk yang kadang diselipkan bebadong atau ajimat untuk menjaga diri dan atau melemahkan lawan. Cara memilih pepadu ada yang dilakukan langsung oleh pekembar dengan mencari orang-orang yang seimbang sebagai lawan tanding dan ada pula yang dipilih sendiri oleh pepadu dengan menantang pepadu lain yang masih berada dalam kerumunan penonton. Selama memilih pepadu ini umumnya diiringi pula oleh Gending Parasean dengan irama Gending Rangsang atau Gending Ngadokang agar suasana semakin meriah.

Bila dua orang pepadu telah terpilih, mereka akan segera memasuki arena permainan sambil membawa rotan dan ende. Keduanya lalu berdiri saling berhadapan dengan Pekembar Tengaq diantara keduanya untuk menjelaskan awig-awig atau peraturan dalam paresean, seperti: berapa banyak ronde yang harus dijalani, waktu setiap rondenya, hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pertarungan berlangsung, pemberian nilai bagi pukulan yang dianggap sah, dan lain sebagainya yang bersifat teknis pelaksanaan.

Selesai menjelaskan awig-awig peresean, Pekembar Tengaq lalu memberi aba-aba dengan peluit untuk segera memulai pertarungan. Sementara di sisi arena, Pekembar Sedi mulai mengawasi jalannya pertarungan untuk memberikan penilaian dan para nayaga mulai mengganti alunan irama musik mereka dari Gending Mayuan menjadi Gending Baradu dengan tujuan untuk membangkitkan semangat pepadu maupun para penonton yang menyaksikannya.

Sejurus setelah peluit berbunyi, kedua pepadu akan saling “empok kadu penjalin” atau menyerang satu sama lain menggunakan penjalin (rontan). Mereka berusaha menunjukkan kelihaian gerakan menyerang, menangkis pukulan, serta mencuri kelengahan agar dapat mendaratkan penjalin tepat di kepala lawan dan mendapat nilai tinggi dari Pekembar Sedi. Bagi sebagian pepadu, khususnya yang sudah mahir, permainan tidak sekadar menggunakan teknik dan jurus tertentu saja, tetapi juga ilmu kekebalan dan hal-hal yang bersifat mistis lainnya.

Apabila waktu yang ditentukan dalam satu ronde berakhir, maka Pekembar Tengaq akan meniup peluit untuk memberikan waktu bagi pepadu beristirahat. Kesempatan ini digunakan oleh pepadu untuk menari mengikuti irama Gending Peresean sambil memulihkan tenaga dan menganalisis kondisi lawan. Selain itu, waktu istirahat juga digunakan sebagai ajang adu gertak untuk melemahkan mental dan semangat lawan sebelum pertarungan dilanjutkan lagi.

Dan, begitu peluit dibunyikan lagi, kedua pepadu pun kembali bertarung hingga ronde yang ditentukan berakhir. Jika kedua pepadu sama-sama mampu bertahan, maka pemenangnya ditentukan dengan skor berdasarkan penilaian dari Pekembar Sedi. Namun, bila seorang pepadu telah mengeluarkan darah akibat pukulan penjalin, pertandingan segera dihentikan untuk menjaga keselamatan. Pepadu yang berhasil membuat lawannya berdarah dinyatakan sebagai pemenang dan pertarungan diakhiri dengan saling rangkul sebagai tanda persahabatan.

Apabila satu pertarungan selesai, Pekembar akan mencari lagi para pepadu lain yang masih berada di dalam kerumunan penonton untuk ditarungkan. Begitu seterusnya hingga seluruh pepadu mendapat giliran untuk bermain atau waktu penyelenggaraan peresean telah berakhir.

Nilai Budaya
Peresean, sebagai suatu permainan atau dapat dikategorikan juga sebagai seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Sasak, Nusa Tenggara Barat, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesakralan, kesehatan, kerja keras, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Nilai kesakralan tercermin dari tujuan peresean yaitu sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menurunkan hujan. Mereka percaya bahwa semakin banyak darah tertumpah, kemungkinan hujan turun akan semakin nyata.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan atau teknik-teknik pukulan dan tangkisan yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dalam hal ini, gerakan-gerakan dalam bermain paresean harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar. Ini membuat tubuh menjadi kuat dan sehat.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai teknik-teknik yang ada dalam peresean. Tanpa kerja keras mustahil teknik-teknik untuk memukul maupun menangkis serangan lawan dapat dikuasai secara sempurna.

Mempelajari seni peresean juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan atau awig-awig peresean yang diberlakukan. Tanpa kedisplinan dan ketaatan atau kepatuhan kepada aturan-aturan tersebut akan sulit bagi seseorang untuk menguasai kesenian ini secara sempurna.

Selain itu, mempelajari peresean, sebagaimana permainan bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan diri maupun orang lain. Dengan menguasai peresean seseorang akan memiliki keberanian dan menjadi percaya diri sehingga tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain.

Dan, nilai sportivitas tercermin dari sikap dan perilaku para pelakunya yang secara jantan mau mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. Hal ini penting karena dalam suatu pertandingan tentu ada kalah dan menang yang jika tidak disikapi secara sportif dapat menjurus ke arah kekerasan. (ali gufron)

Foto: http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/29/peresean-gladiator-unik-ala-suku-sasak-209522.html
Sumber:
Peresean (Stick Fighting), dalam http://wirangpatut.blogspot.com/2007/06/peresean-stick-fighting.html, diakses tanggal 25 Januari 2013

Peresean, dalam http://peresean.blogspot.com/, diakses tanggal 25 Januari 2013

Peresean Khas Lombok, dalam http://lombok-sumbawa-ntb.blogspot.com/2011/08/peresean-khas-lombok.html, diakses tanggal 26 Januari 2013

Keruak Mengadakan Acara Peresean, dalam http://www.sasak.org/kabar-lombok/budaya/keruak-mengadakan-acara-peresean/12-11-2009, diakses 27 Januari 2013

Peresean, dalam http://razez.wordpress.com/2006/09/18/Peresean/, diakses tanggal 27 Januari 2013

Retno, Ismawati, “Peresean: Gladiator Unil Ala Suku Sasak”, dalam http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/29/peresean-gladiator-unik-ala-suku-sasak-209522.html, diakses tanggal 27 Januari 2013

Idealita, Neky Noorwinda, “Budaya Lokal Lombok Peresean”, dalam http://neky-neky.blogspot.com/2011/05/budaya-lokal-lombok-peresean.html, diakses tanggal 27 Januari 2013
 
Lombok adalah suatu pulau kecil yang memiliki letak geografis berada di tengah-tengah dalam jajaran kepulauan Indonesia, masuk dalam wilayah Nusa Tenggara Barat menjadi satu bagian dengan Pulau Sumbawa.
Secara kultural Lombok memiliki kultur perpaduan antara Jawa Bali dan Bugis. Untuk wilayah Lombok Bagian Barat meliputi Lombok Tengah bagian barat Lombok Barat, Kota Mataram dan Lombok Utara banyak terdapat kemiripan dengan budaya Jawa dan Bali, sedangkan untuk wilayah Timur banyak dipengaruhi oleh budaya Bugis dan Sumbawa.

Namun secara garis besar wilayah Lombok masih memiliki kemiripan tradisi budaya antara yang satu dengan yang lain dan banyak berkiblat kebudaya Jawa Bali. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh momen sejarah tempo dulu dimana waktu itu Raja Anak Agung Gede Ngurah dari Karang Asem Bali mencoba untuk menguasai pulau Lombok dan menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di Lombok. Dari berbagai sumber sejarah dan peninggalan-peninggal banyak ditemui nuansa dan corak Hindu Bali di Lombok. Beberapa di antaranya adalah Taman Narmada, Pure Miru, Taman Lingsar, Taman Suranadi dan beberapa tempat lainnya yang sampai saat ini masih di pakai oleh umat Hindu Bali di Lombok sebagai tempat persembahyangannya.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa Lombok terpengaruh oleh budaya Jawa pada zaman runtuhnya kerajaan Majapahit, ketika itu tidak sedikit dari para prajurit dan pembesar kerajaan majapahit yang harus melarikan diri dan tiba di Pulau Lombok.

Suku yang mendiami pulau Lombok itu sendiri bernama suku Sasak yang sampai saat ini masih mengandung arti yang samar. Beberapa pakar bahasa kuno dan sejarawan berusaha mengupas arti yang termaktub didalam kata Sasak Lombok dan banyak pengertian yang bisa dikatakan semuanya benar. Walahualam.
Sebagai suku yang memiliki budaya, dalam tradisi sehari-hari, suku Sasak Lombok seperti suku-suku lainnya yang ada di dunia ini, juga menjunjung tinggi nilai kultural budaya mereka. Salah satu yang bisa kita lihat dan sering kita temui adalah tradisi "Nyongkolan".

Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring -pen) dalam bahasa sasak dialek Petung Bayan.

Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara Laki-Laki (Terune) dan Perempuan (Dedare) di dalam suku Sasak. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah proses akad nikah, untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak. Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan nyongkolan seminggu setelah proses akad nikah dilaksanakan.


Prosesi nyongkolan tidak akan bisa dilepas dari suatu kegiatan yang disebut "Begawe" (hajatan-pen).
Jadi prosesi nyongkolan akan dikategorikan sebagai suatu hajatan atau Begawe. Pada jaman-jaman dahulu Begawe Nyongkolan akan dikemas dalam suatu pesta hajatan yang sangat meriah dan di sebut "Begawe Beleq" yang tidak sedikit mengeluarkan biaya. Dalam acara Begawe Beleq baik pihak laki-laki dan perempuan masing-masing akan mempersiapkan segala sesuatu untuk prosesi acara nyongkolan tersebut. Maka disini letak kemeriahan dari acara tersebut, para tamu undangan akan di undang dua atau tiga hari sebelum hari H tersebut, untuk melakukan kegiatan memasakan nasi dan lauk pauk serta membikin jajanan pesta.

Untuk menghibur para tamu yang bekerja biasanyanya pemilik hajatan (Epen Gawe-pen) akan menyewa kesenian-kesenian tradisional khas Sasak seperti Gendang Beleq, Drama, Joget (sinden-pen) dan sebagainya. Pada perjalanan acara ini akan terdapat tradisi-tradisi kecil lagi yang di jalankan seperti Bisoq Beras yang diiringi oleh alat musik tradisional  acara Bisoq Beras merupakan tradisi pavorit para Terune Dedare karena disini mereka bisa bercengkerama dan saling rayu,  dan acara bikin Ares.

Kembali ke Nyongkolan, setelah hari H tiba, pengantin laki-laki dan perempuan akan diiring atau di giring atau diarak layaknya Raja dan Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan, pengiring ini akan mengenakan pakaian adat sasak layaknya prajurit dan dayang-dayang menghantar Raja dan Permaisuri sambil diiringi dengan musik tetabuhan tradisional baik berupa Gendang Beleq, Gamelan Beleq, Kedodak, atau Tawak-Tawak malah sekarang ada namanya Kecimol dan Ale-Ale yang biasanya diiringi oleh penyanyi.

Sesampai dikediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta do'a restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan dibawa oleh suaminya.

Demikian sepenggal tradisi adat suku Sasak Lombok dalam melangsungkan prosesi pernikahan, dan dari segi kultur atau budaya maka hal ini tidak jauh-jauh dengan tradisi budaya Jawa dan Bali.

Sumber: sasakculture
Bau Nyale
 Salah satu kebudayaan suku Sasak di Lombok adalah tradisi Bau Nyale. Ini merupakan salah satu tradisi sekaligus identitas suku Sasak. Oleh sebab itu, tradisi ini masih tetap dilakukan oleh suku Sasak sampai sekarang. Bau Nyale biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai di pulau Lombok selatan, khususnya di pantai selatan Lombok Timur seperti pantai Sungkin, pantai Kaliantan, dan Kecamatan Jerowaru.

Selain itu, juga dilakukan di Lombok Tengah seperti di pantai Seger, Kuta, dan pantai sekitarnya. Saat melakukan tradisi ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai hiburan pendamping.

Bau Nyale selalu dilakukan secara rutin setiap tahun. Tradisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Sayangnya, kapan kepastian waktu dimulainya tradisi ini masih belum diketahui. Berdasarkan isi babad, Bau Nyale mulai dikenal masyarakat dan diwariskan sejak sebelum abad 16. Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak. Dalam bahasa Sasak, Bau artinya menangkap sedangkan Nyale adalah nama sejenis cacing laut. Jadi sesuai dengan namanya, tradisi ini kegiatan menangkap nyale yang ada di laut.

Cacing laut yang disebut dengan Nyale ini termasuk dalam filum Annelida. Nyale hidup di dalam lubang-lubang batu karang yang ada dibawah permukaan laut. Uniknya, cacing-cacing nyale tersebut hanya muncul ke permukaan laut hanya dua kali setahun.

Tradisi Bau Nyale merupakan sebuah kegiatan yang dihubung-hubungkan dengan kebudayaan setempat. Bau Nyale berawal dari legenda lokal yang melatarbelakangi yakni tentang kisah Putri Mandalika. Menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale konon merupakan jelmaan Putri Mandalika. Putri Mandalika dikisahkan sebagai putri yang cantik dan baik budi pekerinya. Karena kecantikan dan kebaikannya, banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Putri tersebut bingung dan tidak bisa menentukan pilihannya. Ia sangat bingung. Jika ia memilih salah satu dari mereka, ia takut akan terjadi peperangan. Putri yang baik ini tidak menginginkan peperangan karena ia tidak mau rakyat menjadi korban.

Oleh sebab itulah, putri pub lebih memilih mengorbankan dirinya dengan menceburkan dirinya ke laut dan berubah menjadi nyale yang berwarna-warni. Oleh sebab itu, masyarakat di sini percaya bahwa nyale tidak hanya sekedar cacing laut biasa tetapi merupakan makhluk yang dipercaya dapat membawa kesejahteraan bagi yang menangkapnya. Masyarakat di sini meghormati dan percaya bahwa orang yang mengabaikannya akan mendapat kemalangan. Mereka yakin nyale dapat membuat tanah pertanian mereka lebih subur dan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Selain itu, nyale juga digunakan untuk lauk pauk, obat dan keperluan lain yang bersifat magis sesuai kepercayaan masing-masing.

Tradisi Bau Nyale biasanya dilakukan dua kali setahun. Tradisi ini dilakukan beberapa hari sesuai bulan purnama yaitu pada hari ke-19 dan 20 bulan 10 dan 11 dalam penanggalan suku Sasak. Biasanya tanggal tersebut jatuh pada bulan Februari dan Maret. Upacara penangkapan cacing nyale dibagi menjadi dua yakni dilihat dari bulan keluarnya nyale-nyale dari laut dan waktu penangkapannya. Dilihat dari waktu penangkapan juga masih dibagi lagi menjadi jelo pemboyak dan jelo tumpah. Bulan keluarnya nyale dikenal dengan nyale tunggak dan nyale poto. Nyale tunggak merupakan nyale-nyale yang keluarnya pada bulan kesepuluh sedangkan nyale poto keluarnya pada bulan kesebelas. Kebanyakan nyale-nyale keluar saat nyale tunggak. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang menangkap nyale saat bulan ke-10. Masyarakat menangkap nyale biasanya saat menjelang subuh. Pada saat tersebut, nyale berenang ke permukaan laut. Saat itulah masyarakat menangkap nyale-nyale tersebut.

Sumber: pusakapusaka

Tari Rudat adalah sebuah tari tradisional yang masih banyak terdapat di Pulau Lombok. Dibawakan oleh 13 penari yang berdandan mirip prajurit. Berbaju lengan panjang warna kuning, celana sebatas lutut warna biru, berkopiah panjang mirip Aladin warna merah yang dililit kain warna putih atau biasa disebut tarbus. Mereka dipimpin oleh seorang komandan yang mengenakan kopiah mirip mahkota, lengkap dengan pedang di tangan.

Biasanya tarian ini dibawakan pada saat upacara khitanan, katam Al Quran, Maulid Nabi peringatan Isra Mi’raj, dan peringatan hari-hari besar Islam lainnya.Tari Rudat ditarikan sambil menyanyi dengan lagu yang melodi dan iramanya seperti lagu melayu. Syairnya ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Indonesia. Tari Rudat diiringi sejumlah alat musik rebana yang terdiri dari jidur, rebana, dap, mandolin dan biola. Gerak tarian rudat merupakan gerak seni bela diri pencak silat yang menggambarkan sikap waspada dan siap siaga prajurit Islam tempo dulu.

Itulah sebabnya, mereka banyak menggunakan gerakan tangan dan kaki. Kadang tangan diayun kiri kanan, kadang mirip gelombang, tapi di saat lain mereka melakukan gerakan memukul dan menendang.

Sesungguhnya asal-usul kesenian rudat sampai saat ini masih belum begitu jelas. Sebagian berpendapat, bahwa kesenian rudat ini merupakan perkembangan dari zikir zaman dan burdah, yaitu zikir yang disertai gerakan pencak silat. Burdah adalah nyanyian yang diiringi seperangkat rebana ukuran besar.

Pendapat lain mengatakan, konon tari ini berasal dari Turki yang masuk bersama penyebaran agama Islam di Indonesia pada abad XV. Itulah sebabnya, tarian ini kentara sekali warna Islamnya, terutama dalam lagu dan musiknya. Di Lombok Timur dapat kita jumpai dan saksikan hampir di semua Kecamatan.

Sumber: ragamsukudunia
Gendang Beleq
 Kesenian satu ini merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namanya dalah Gendang Beleq.

Apakah Gendang Beleq itu?
Gendang Beleq adalah kesenian musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan beberapa macam alat musik dan gendang berukuran besar sebagai alat musik utamanya. Alat musik gendang yang digunakan sedikit berbeda dengan gendang pada umumnya karena memiliki ukuran yang lebih besar. Kesenian  Gendang Beleq ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Suku Sasak di Pulau Lombok, NTB.

Asal Mula Gendang Beleq
Kesenian Gendang Beleq ini merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Suku Sasak di pulau Lombok. Menurut beberapa sumber yang ada, awalnya Gendang Beleq merupakan alat musik pengiring dan penyemangat para prajurit saat akan berjuang ke medan perang. Suara yang dihasilkan oleh Gendang Beleq ini dipercaya membuat para prajurit lebih percaya diri dan lebih berani untuk bertempur membela kerajaan mereka.

Namun seiring dengan berjalannya waktu Gendang Beleq digunakan sebagai musik pengiring sebuah acara adat, kesenian, budaya maupun hiburan rakyat. Dengan menambahkan beberapa alat musik tradisional sebagai musik tambahannya. Naman Gendang Beleq sendiri diambil dari kata gendang dan beleq. Dalam bahasa Suku Sasak “beleq” memiliki arti “besar”, sedangkan “gendang” merupakan alat musik yang digunakan. Sehingga dapat diartikan Gendang Beleq merupakan gendang yang berukuran besar.

Fungsi Gendang Beleq
Seperti yang disebutkan di atas, Gendang Beleq awalnya digunakan sebagai penyemangat para prajurit menuju medan perang, dan sekarang menjadi pengiring pengiring sebuah acara adat maupun acara hiburan. Walaupun begitu, bagi masyarakat Suku Sasak, Gendang Beleq ini memiliki nilai filosofis dan disakralkan. Selain memiliki keindahan dalam wujud seni, juga menyangkut jati diri dan jiwa kepahlawanan masyarkaat Suku Sasak.

Pertunjukan Gendang Beleq
Dalam pertunjukan Gendang Beleq biasanya ditampilkan secara berjalan berkeliling dan berkelompok. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 13 sampai 17 orang dengan membawa alat musik gendang maupun alat musik tambahan. Selain itu dalam pertunjukannya, selain memainkan musik mereka juga menari dengan gerakan-gerakan bervariatif yang diciptakan oleh para pemainnya. Sehingga dapat menyuguhkan pertunjukan yang atraktif dan menghibur.

Pengiring Gendang Beleq
Dalam pertunjukan kesenian Gendang Beleq ini tidak hanya terdiri dari gendang saja namun juga beberapa alat musik lain sebagai tambahannya. Alat musik yang digunakan pada pertunjukan Gendang Beleq ini diantaranya, dua Gendang Beleq (gendang mama dan gendang nine), gendang kodeq (gendang kecil), reong, prembak baleq, prembak kodeq, petuk, gong besar, gong penyelak, gong oncer, dan lelontek. Dalam pertunjukannya alat musik tersebut dimainkan secara kompak dan padu sehingga menghasilkan suara yang indah dan enak untuk didengar.

Perkembangan Gendang Beleq
Kesenian Gendang Beleq ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di pulau Lombok, NTB. Dalam perkembangannya, kesenian ini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh beberapa kelompok kesenian yang ada di sana. Gendang Beleq ini juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, acara adat, penyambutan tamu besar, festival budaya dan beberapa acara besar lainnya.

Sekian pengenalan tentang “Gendang Beleq Kesenian Tradisional Dari Lombok, NTB”. Semoga bermanfaat dan menamabah pengetahuan anda tentang ragam kesenian tradisional di indonesia.

Sumber: negerikuindonesia
Langganan: Postingan ( Atom )

ABOUT AUTHOR

LATEST POSTS

  • Begasingan
    Begasingan merupakan salah satu permainan yang mem-punyai unsur seni dan olah raga, dan merupakan permainan yang ter-golong cukup tua di ...
  • Nyongkolan dan Begawe Beleq Tradisi Suku Sasak Lombok
      Lombok adalah suatu pulau kecil yang memiliki letak geografis berada di tengah-tengah dalam jajaran kepulauan Indonesia, masuk dalam wil...
  • Tari Rudat
    Tari Rudat adalah sebuah tari tradisional yang masih banyak terdapat di Pulau Lombok. Dibawakan oleh 13 penari yang berdandan mirip praju...
  • Gendang Beleq Kesenian Tradisional Dari Lombok, NTB
    Gendang Beleq  Kesenian satu ini merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namanya dal...
  • Tradisi Bau Nyale, Kebudayaan Penuh Filosofi di Lombok, NTB
    Bau Nyale  Salah satu kebudayaan suku Sasak di Lombok adalah tradisi Bau Nyale. Ini merupakan salah satu tradisi sekaligus identitas suk...
  • Peresean, Permainan Tradisional Masyarakat Lombok
    Asal Usul Suku bangsa Sasak yang berdiam di Pulau Lombok, Provinsi NusaTenggara Barat, memiliki banyak unsur-unsur kebudayaan yang hingg...
  • Tradisi Kawin Lari
    Kawin Lari merupakan tradisi masyarakat Lombok khususnya suku sasak. Mencuri untuk menikah lebih kesatria dibandingkan meminta kepada ora...
  • “KETIK KUDA” Permainan Tradisional Suku Sasak
    Permainan Ketik Kuda atau yang populer dikenal dengan nama Ketik Bawi adalah salah satu permaian tradisional daerah Lombok provinsi Nusa ...
  • Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak
    Bangsawan Sasak merupakan salah satu komunitas penduduk asli pulau Lombok. Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan sunda kecil atau...
  • Tradisi dan kebudayaan Bayan Lombok Utara
    Sejarah dan Tradisi Unik “Maulid Adat” di Bayan Beleq Lombok Utara Bayan adalah suatu Kecamatan di wilayah Kabupaten yang paling muda...

Blogger templates

Categories

  • budaya
  • cerita rakyat
  • kesenian tradisional
  • permainan tradisional
  • situs budaya

Instagram

Blog Archive

  • ▼  2016 (17)
    • ►  Desember (12)
    • ▼  November (5)
      • Peresean, Permainan Tradisional Masyarakat Lombok
      • Nyongkolan dan Begawe Beleq Tradisi Suku Sasak Lombok
      • Tradisi Bau Nyale, Kebudayaan Penuh Filosofi di Lo...
      • Tari Rudat
      • Gendang Beleq Kesenian Tradisional Dari Lombok, NTB
Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Posts

  • Begasingan
    Begasingan merupakan salah satu permainan yang mem-punyai unsur seni dan olah raga, dan merupakan permainan yang ter-golong cukup tua di ...
  • Nyongkolan dan Begawe Beleq Tradisi Suku Sasak Lombok
      Lombok adalah suatu pulau kecil yang memiliki letak geografis berada di tengah-tengah dalam jajaran kepulauan Indonesia, masuk dalam wil...
  • Tari Rudat
    Tari Rudat adalah sebuah tari tradisional yang masih banyak terdapat di Pulau Lombok. Dibawakan oleh 13 penari yang berdandan mirip praju...
  • Gendang Beleq Kesenian Tradisional Dari Lombok, NTB
    Gendang Beleq  Kesenian satu ini merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang khas dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namanya dal...
  • Tradisi Bau Nyale, Kebudayaan Penuh Filosofi di Lombok, NTB
    Bau Nyale  Salah satu kebudayaan suku Sasak di Lombok adalah tradisi Bau Nyale. Ini merupakan salah satu tradisi sekaligus identitas suk...
  • Peresean, Permainan Tradisional Masyarakat Lombok
    Asal Usul Suku bangsa Sasak yang berdiam di Pulau Lombok, Provinsi NusaTenggara Barat, memiliki banyak unsur-unsur kebudayaan yang hingg...
  • Tradisi Kawin Lari
    Kawin Lari merupakan tradisi masyarakat Lombok khususnya suku sasak. Mencuri untuk menikah lebih kesatria dibandingkan meminta kepada ora...
  • “KETIK KUDA” Permainan Tradisional Suku Sasak
    Permainan Ketik Kuda atau yang populer dikenal dengan nama Ketik Bawi adalah salah satu permaian tradisional daerah Lombok provinsi Nusa ...
  • Fiosofi yang Mendasari Adat perkawinan Bangsawan Sasak
    Bangsawan Sasak merupakan salah satu komunitas penduduk asli pulau Lombok. Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan sunda kecil atau...
  • Tradisi dan kebudayaan Bayan Lombok Utara
    Sejarah dan Tradisi Unik “Maulid Adat” di Bayan Beleq Lombok Utara Bayan adalah suatu Kecamatan di wilayah Kabupaten yang paling muda...

Blogroll

Flickr

About

Copyright 2014 Budaya Sasak .
Designed by OddThemes